Reversed Lens langsung ke bodi kamera

14 12 2008

Seperti yang pernah saya ulas di posting Foto makro dengan Reversed Lens , ada dua tipe pemasangan Reversed Lens yaitu:

  1. dipasangkan di depan sebuah lensa yang sudah terpasang pada kamera , menggunakan semacam alat bernama “Macro coupler”
  2. dipasangkan pada body kamera menggunakan adapter khusus “Reverse Ring”

No 2 sudah dibahas di posting sebelumnya . Kali ini kita akan coba no.1 .

Setupnya relatif simple antara lain:

  • Kamera DSLR Nikon (misal)
  • Lensa Nikon 50mm AF ( lensa lain mgkn bisa , belum pernah coba sih )
  • “Reversing Ring” , semacam ring khusus yang bisa menancapkan lensa pada posisi terbalik . Saya beli dari bursa FN seharga 150rb (kayaknya).

Caranya , pasang Reversing Ring ke thread filter lensa tersebut sampai cukup kuat supaya tidak terlepas. Kemudian pasangkan Reversing Ring ke bodi kamera seperti biasa ketika kita memasang lensa . Klop , dan hasilnya sebagai berikut.

Reversed Lens

Reversed Lens

Baca entri selengkapnya »





Memotret dengan ponsel

13 12 2008

Motret dengan ponsel ? siapa takut ..?? hehehe .

Sebenarnya sih sama saja seperti kamera-kamera sesungguhnya. Sama-sama bisa menangkap momen lalu merekamnya kedalam sebuah image.  Ya secara kualitas mgkn tidak bisa dibanding-bandingkan dengan hasil dari kamera DSLR/pocket. Sensor size-nya saja jauh beda. Meski dengan jumlah Megapixel yang sama/ lebih besar ,faktor sensor size ini tetap berpengaruh. Umumnya , semakin besar sensor-size semakin baik kualitas image yang dihasilkan.

Lho.. tapi itu kan kualitas image/outputnya. Masih ada kualitas lain yang lebih sering dilihat/dinilai dalam menikmati sebuah foto seperti ketepatan momen, komposisi foto/warna, mood yang ditimbulkan, pesan mendalam dari foto dsb. Kualitas terakhir inilah yang menurut saya sebaiknya menjadi fokus utama dari para pengguna ponsel kamera atau kamera-kamera lainnya. Semua sama kok .. mau pakai kamera apapun ..kualitas foto kedua tsb lebih ditentukan oleh mata kita. Ditentukan oleh kemampuan mata utk melihat sekeliling kita , melihat obyek, melihat warna , melihat kontras cahaya, merasakannya lalu dalam sepersekian detik kemudian menggabungkan semua itu kedalam frame kamera menjadi sebuah image yang bagus dan pas. Fuuh .. dalem banget ngomongnya :)

Baca entri selengkapnya »





iklan dan rokok

15 10 2008

Pernah melihat iklan rokok di TV yang ceritanya tentang seorang pria petualang yang menolak tawaran tumpangan mobil yang lewat ?? iklan rokok apa itu ya , moga-moga ada yang ingat .  Ga tau pasti kenapa dia menolak tumpangan tersebut . Mungkin karena dia petualang sejati lebih enak jalan kaki , lebih sehat dan tidak ingin mengotori atmosfir dgn ampas bensin ( klise banget :p ) .

Tapi , setelah melihat clip dibawah ini kayaknya saya agak mulai ngerti deh hehehe …





Lensa Nikon AF 50mm F1.4

22 09 2008

Ini lensa ‘kit’ pertama saya . Barang second, diperoleh dari bursa fotografer.net setelah mengocek dompet kalau tidak salah 1,5 jt hmm

Pertimbangan awal beli lensa ini karena saya membutuhkan lensa yang bisa menghandle pemotretan low-light. Maklumlah secara waktu itu baru punya momongan , pingin jepret sana-sini mengabadikan momen masa kecilnya. Dan pasti sebagian besar waktu akan berada di indoor / dalam ruangan . Ga mungkin dong motret anak harus dibawa keluar ruangan dulu :)

rara lg konsen

Di atas adalah satu dari hasil jepret awal-awal punya lensa ini. Dalam ruangan dan No flash ! hanya menggunakan cahaya secukupnya jadi menurut saya lumayan natural. Bisa dilihat juga depth of field-nya (DOF) sangat tipis membuat background menjadi blur . Efek background blur ini sering digunakan untuk meng-isolasi obyek utama sehingga mata kita tertuju langsung pada obyek bersangkutan . Bukaan aperture disetup pada F1.4 , bukaan paling lebar di lensa ini . Agak soft but really cant complain :p . Dengan lensa ini ga usah khawatir motret di kondisi low-light . Tinggal tunggu momen yang bagus dan klik !! Di atas , Rara sedang melihat azan maghrib seperti yang biasa ia lakukan hampir setiap hari . Sekarang mah boro-boro… , ga boleh lepas mata dari Barney ..:p

Baca entri selengkapnya »





Kenapa Milih Nikon ?

25 06 2008

Sumpriiit dulu awalnya saya mau milih Canon lho ! nge-blank alias ga ada ide untuk milih merek kamera. Mungkin karena merek Canon lebih popular kali ya .. dimana-mana ada . Canon photocopy , Canon printer , Canon bantal ..hehehehe just kiddin :) . Pokoknya nge-blank aja .. ga ada mentor kecuali mbah Google tersayang

Sampai akhirnya .. ya terdampar di situsnya Ken Rockwell yang terkenal ituh gara – gara hendak mencari info tentang lensa Nikon 18-200mm ! baca-baca artikelnya . Menarik sekali , menggoda sekali . Terutama artikel yang mengulas tentang lensa ajaib Nikon 18-200mm VR . “Its a Miracle” , “It’s changed the way I live and make photos” .. katanya . Busyet.. lensa ini tob markotob banget ya , sampai si Ken bilang begitu. Wah , jadi makin manteb aja pindah ke lain hati ( Nikon ) . Pikir-pikir , hmmm gw ga butuh lensa lain .. cukup satu ini dah bisa semua .

Nikon udah .. sekarang tinggal barangnya . Waktu itu sih yg lagi populer D70s dan D50. Puyeng jugaa .. sampai akhirnya Aa Ken kasih inspirasi lewat artikelnya yg bagus Your Camera Doesn’t Matter . Baca aja deh ..panjang lebar tuh . Intinya , kamera itu hanya tool . Yang utama adalah kita sebagai fotografer , yang melihat – merasakan – mengambil image. Saya jadi mikir , kamera yg bakal dibeli ini hanya tool saja .. langkah pertama saya untuk belajar “melihat” . “Melihat” itu lebih penting .

Akhirnya setelah monitoring bursa FN , ketemu juga barang yang cocok dengan harga bersaing . My first DSLR , my Nikon D50 !!! Barang bekas aja .. namanya juga tool buat belajar awal . Lagipula saya pikir yg namanya body kamera itu tidak bertahan lama .. seiring waktu pasti ada aja yang baru . Lebih baik invest ke lensa . Kalau sudah uzur body kamera-nya..tinggal ganti kalau ada bonus hehehehe .

Baca entri selengkapnya »





Mengenal ISO

24 06 2008

ISO pada fotografi digital , bagi saya , lebih dipahami sebagai kemampuan teknologi sensor untuk menangkap cahaya . Semakin tinggi nilai ISO , semakin besar pula cahaya yang dapat ditangkap oleh sensor . Namun , kekurangannya adalah timbulnya noise seiring bertambahnya nilai ISO yang disetting . Noise ini tampak seperti bintik – bintik butiran kecil yang bersebaran pada foto . Jika foto di zoom hingga 100% akan terlihat jelas noisenya . Selain menimbulkan noise , penambahan nilai ISO juga dapat menyebabkan berkurangnya kualitas foto yg dihasilkan misal : warna jadi tidak muncul , detail jadi hilang dsb.

Nilai ISO pada kamera pada umumnya adalah 100,200,400,800,1600,3200 . Kamera DSLR profesional , NIKON D3 , bahkan mampu mencapai ISO hingga 6400,12800 dan 25600 dengan noise yang sangat rendah . Seiring perkembangan teknologi jangan heran kalau beberapa tahun kedepan sensor digital akan lebih baik , mampu mendukung ISO tinggi tapi dengan noise minimal.

Penggunaan ISO

Umumnya , settingan ISO yang dianjurkan adalah nilai ISO kecil. Noise yg dihasilkan lebih kecil sehingga hasil foto lebih baik apalagi jika berenacana untuk di-print pada ukuran besar. Juga cocok untuk pemotretan landscape / pemandangan dimana noise yg diinginkan seminimal mungkin. Repotnya kalau memotret landscape biasanya pada waktu-waktu dimana justru kurang cahaya : sunrise , sunset atau malam. Mau tidak mau, penggemar jenis foto tersebut harus sedia tripod atau sejenisnya agar bisa menggunakan shutter speed yang lama.

Nilai ISO besar biasanya digunakan untuk kondisi-kondisi kurang cahaya (malam hari atau indoor) dimana setting-an Aperture maupun Shutter Speed sudah mentog. Pada kondisi tersebut , Nilai ISO bisa di naikkan sampai kita memperoleh kecepatan shutter yg ideal. Kenapa tidak menggunakan tripod saja seperti memotret pemandangan ?? well , kalau misalnya obyek foto anda mau diam mematung selama bbrp sec sih bisa saja :) .. tapi anak saya ga bisa gitu euy :) . Foto dibawah adalah sample menggunakan ISO paling tinggi pada kamera Nikon D50 saya yaitu ISO 1600. Dapat anda lihat pada bagian bawah foto , dibagian aga gelap tampak butiran-butiran noisenya .  Tapi saya harus mengambil foto ini karena momennya bagus . Cahaya seadanya didapat dari cahaya matahari sore yang menerobos masuk. Untuk mendapatkan shutter speed yang cukup agar tidak blur/goyang , dengan DOF yang cukup lebar ( F5.0 ) , saya harus meningkatkan ISO sampai 1600 .

Khusyuk

Khusyuk

Noise == Jelek ??

Ga jugaa .. malah saya pernah melihat foto Audi (penyanyi) di sebuah majalah foto (lupa lagi) yang disajikan satu halaman penuh dengan ISO tinggi alias banyak noise. Menurut fotografernya noise tersebut untuk memunculkan moodnya Audi yangg … murung? :p

Saya pribadi sih , asal tidak di print dalam ukuran besar ga takut-takut amatlah menggunakan ISO tinggi sampai 1600-pun . Lha wong paling gunanya buat ditaruh di blog ini :p .. ukuran web standar , ga bakal kentara banget noise-nya. Kalau di print juga ga gede-gede amat alias ukuran postcard. Yang penting maksud fotonya udah bisa dicerna oleh pembaca sekalian. Lain ceritanya kalau gara-gara noise obyeknya jadi ga jelas seperti yg pernah saya alami ketika memaksa menggunakan ISO tinggi pada kamera Prosumer Fz7. Makanya beli DSLR aja deh :) .. benar-benar beda di kekuatan ISO-nya :) . Foto malam , foto indoor ga akan jadi masalah lagi ..

Auto ISO

Adalah sebuah fitur di kamera Nikon D50 yang saya sukai . Belum tahu apakah ada di merk kamera lain . Yang jelas fungsinya adalah automatisasi seleksi nilai ISO oleh kamera untuk mendapatkan shutter-speed minimum yang telah kita tentukan. Pada kamera saya , ada bbrp nilai minimum yang bisa dipilih yaitu 1, 1/15 , 1/30 , 1/60 dan 1/125sec. Misal kita pilih nilai 1/125 sec . Kamera akan meng-adjust nilai ISO semaksimal mungkin sehingga dengan pilihan nilai aperture yang ada kita bisa memperoleh nilai 1/125 sec. Pada lensa normal (mis : 50mm) 1/125 sec adalah nilai yang cukup tinggi utk mencegah kemungkinan terjadinya blur/goyang.  Nilai ISO-pun akan lebih spesifik , tidak terbatas pada nilai ISO yang saya sebutkan diatas tadi ( 200,400,800 dst ) . Bisa jadi misal kamera men-set nilai ISO ke 350 dsb dsb.

Ok..semoga berguna

Seri belajar lain:
Belajar tentang aperture
Belajar tentang shutter-speed

Update history:
- 18 dec 2008 : tambahin bbrp keterangan Auto ISO





WGA in Firefox3

20 06 2008

Firefox3 downloaded then it started to freak me out .. better disable it :) . In the end i only have 3 plugins running : Mozilla default , Java and Flash. Running as simple as possible .

Actually after some updates , Firefox will automatically disabled the WGA plugin with reason “Disabled for your protection” . Nicely done firefox .. Lol





Tanda-tanda orang beken ???

17 06 2008

Untungnya , link-link ke tutorial lain di-include-kan di postingannya . Lumayan dapat backlink gratis hehehe . Tapi lho lho tanggalnya itu kok lebih awal dari tanggal posting saya ya? hebat euy .. apalagi diprotect pakai Copyscape euy !! saya handal banget bisa hacking blognya hehehe .. ya iyalah pakai pirepok gitu lho :p ..

Linknya ?? ga ah .. enak dia dong dapat backlink gratis dari blog orang beken (narsis menjurus stress) :p

LOL





What the efffff ????

12 06 2008

Jika ente suka sulap mestinya tahu dong David Blaine . Cuman ini video parodinya. Kocak nendang !! saking lucunya sampe ada 3 episode . Meni lucu kiye euy .. :)

Bandwidth abuser nih !! but it’s worth every bit you’ll download .


Baca entri selengkapnya »





Mengenal Shutter Speed atau Kecepatan Rana

31 05 2008

a.k.a Kecepatan Rana dalam bahasa indonesia . Shutter adalah semacam layer yang menutup sensor . Pada waktu kita men-jepret , Shutter ini akan terbuka selama bbrp waktu sehingga sensor bisa merekam cahaya yang masuk melalui lensa . Durasi pembukaan shutter inilah yang dikenal sebagai Shutter Speed . Logikanya , semakin lama shutter dibuka akan semakin banyak cahaya yang masuk . Dan sebaliknya semakin cepat shutter dibuka maka makin sedikit cahaya yang terekam .

Satuannya detik . Satuannya lebih mudah dipahami ketimbang satuan Aperture . Untuk mengurangi banyaknya cahaya yang masuk menjadi setengah sebelumnya (-1 stop ), waktu Shutter Speed tinggal di bagi 2 . Dan sebaliknya , untuk menambah cahaya menjadi 2x sebelumnya ( +1 stop ) tinggal di kalikan 2 . Pada kamera Nikon D50 , nilai Shutter Speed yang dapat digunakan pada kamera adalah 60 , 32 , 16 , 8 , 4 , 2 , 1s , 1/2 , 1/4 , 1/8 , 1/16 , 1/32 , 1/64 , 1/125 , 1/250 , 1/500 , 1/1000 , 1/2000 , 1/4000 . 1/4000 . Range nilai Shutter Speed pada kamera tipe/merk lain kurang lebih sama . Pada beberapa kamera pro , kecepatannya bisa sampai 1/8000s . Cukup cepat untuk memotret peluru yang melesat !!

Slow Shutter Speed

Teknis dengan menggunakan shutter speed yang rendah ( nilai besar ) . Biasa digunakan pada kondisi kurang cahaya , shutter dibuka lebiiih lama agar kamera dapat mengumpulkan cukup cahaya untuk menghasilkan gambar yg kita inginkan . Jika kita memotret suatu scene dengan beberapa obyek yang bergerak , akan menghasilkan sebuah efek baru yang keren .

Misal memotret lalu lintas di malam hari menimbulkan efek “jalur cahaya” / lightrail . Lampu dari mobil2 yang berseliweran direkam dalam sensor .

Foto by ^sean, on Flickr

Slow speed juga bisa menimbulkan kesan dinamis pada foto kita . Seperti pada foto air dibawah . Foto ini aga tricky karena diambil pada siang hari dimana masih banyak cahaya . Triknya adalah kita mengurangi cahaya yang masuk ke sensor dengan memasangkan sebuah atau beberapa (stack) filter ND ( Neutral Density ) . Filter ini akan mengurangi cahaya bberapa kali dari semula ( tergantung level filter ND ) sehingga kondisi banyak cahaya pun akan tampak seperti malam .

Foto by jurvetson, on Flickr

Atau yang lebih extreem dengan menggunakan mode BULB dimana shutter akan tetap dibuka selama kita menekan tombol shutter . Biasanya cuman ada di kamera DSLR ( beli beli hehehe ) . Di malam yang gelap sekalipun , kita tetap bisa menangkap momen yang ada ,seperti merekam lintasan bintang-bintang di langit. Foto dibawah ini diambil dengan shutter speed = 16 menit .

Foto by stignygaard, on Flickr

Slow Shutter Speed dan Tripod

Tripod adalah suatu yg mutlak dibutuhkan jika kita ingin berexperimen dengan foto-foto slow speed . Alasannya karena kamera harus ditopang oleh obyek lain selama shutter terbuka . Jika tidak , maka foto yang dihasilkan akan blur karena kamera goyang geser kesana kemari . Manusia normal ga akan kuat berdiri diam memegangi kamera selama bbrp sec tanpa goyang . Kecuali ente manusia robot yang bisa meng-hibernate diri sendiri :p . Well , tidak harus tripod sih .. obyek lain seperti karung pasir juga bisa . Yang penting cukup solid untuk menahan kamera selama shutter terbuka . Okeh ?

Baca entri selengkapnya »